
Undangan
membaca dan mengobrolkan cerita pendek. Lembah Kelelawar mempersembahkan: Meja
Cerpen #8 Cerpen “Kabar dari Laut”
Karya Dina Ahsanta Puri. Pemantik Obrolan:1. Turahmat [Dosen], 2.Heri Cs
[Pegiat Sastra Boja, Kendal].
Hari: Minggu, 22 September 2013. Pukul 19.30 –
selesai. Tempat: Jl. Peterongan Timur no.337-a Semarang. [belakang pabrik
Djarum, Tanggul Indah] Gratis. CP: 085642889366.
Kabar dari Laut
Cerpen Dina Ahsanta Puri
Seperti malam-malam yang lain. Pastilah
Sapto akan keluar menemui laut. Duduk sejenak di hamparan pasir yang tak
tersentuh oleh ombak. Mencoba membaca isyarat laut sebelum berlayar ke
tengahnya. Terlihat jejak kaki kura-kura di sekelilingnya yang begitu dia
hafal. Tak ketinggalan jejak manusia pun masih terlihat nyata, bahkan jejak
mereka di pasir tak terhapus oleh ombak sekali pun. Jejak-jejak yang mengusik
pandangan Sapto; segerombolan sampah.
Debur ombak semakin terdengar jelas
menyisipi sunyi malam. Kadang menerjang, surut, mengalir perlahan, dan menyisakan
buih di hamparan pesisir. Selalu begitu sebelum hilang tak berbekas. Sesekali
air ombak itu tersangkut dilekuk batu
karang, sejenak beristirahat di sana. Apapun yang terjadi ombak-ombak itu akan
selalu kembali ke pelukan samudra luas dengan membawa semua kisah-kisahnya.
Dan seperti malam-malam kemarin pula. Bulan
masih terlihat begitu terang. Adalah suatu kebiasaan para nelayan selama terang bulan untuk
tidak melaut. Mereka lebih memilih memperbaiki alat tangkap yang kondisinya
rusak. Namun, tidak sedikit dari mereka beralih profesi menjadi buruh tani,
buruh bangunan, dan pedagang demi memenuhi ekonomi keluarga. Percuma saja jika
dipaksakan melaut. Tangkapan ikan akan sedikit. Pantulan cahaya bulan di permukaan
air laut yang mengandung garam, membuat senar pancing ataupun jala yang
terbenam terlihat menyala. Tentu ikan-ikan akan enggan mendekat. Dan Sapto
bukanlah nelayan kemarin sore yang tak tahu tanda-tanda alam. Berlayar ke
tengah laut baginya bukanlah semata menacari ikan. Bagi yang pertama kali
mendengarnya mungkin ini akan terdengar konyol bahkan gila. Iya, Sapto lebih
sering berlayar ke tengah laut untuk mencari mayat. Aneh bukan? Memang begitu
adanya. Ombak pantai kidul yang ganas kerap mengambangkan mayat manusia. Entah korban kecelakaan, dibunuh, ataupun bunuh diri, bahkan
mungkin juga tumbal Nyi Roro Kidul. Pekerjaan ini jauh lebih menguntungkan
ketimbang mencari ikan di waktu-waktu seperti
ini. Dia cukup membawa mayat itu dan membuat semacam pengumuman baik
dari mulut ke mulut atau pun melalui selebaran. Setelah itu, keluarga yang
kehilangan akan menghampirinya dan memberinya uang sebagai tanda terima kasih.
Ketika pengamatannya dirasa sudah
cukup, Sapto tahu sisi mana yang harus dia tuju. Segeralah dia berlayar dengan
perahu tuanya, menuju ombak yang paling keruh. Itulah patokannya selama ini.
Dan benar adanya, mayat seorang lelaki tengah mengambang di tengah laut. Sekuat
tenaga dia dayung perahunya untuk mendekat dan dengan sigap diangangkatnya
mayat itu ke atas perahu. Hidungnya benar-benar sudah tumpul terhadap bau busuk
yang menyeruak. Baginya bau busuk itu lebih nikmat ketimbang bau amis ikan-ikan
yang pernah terperangkap jalanya.
***
Keesokan harinya Sapto segera
mengumumkan mayat yang telah dia temukan. Kabar tersebut segera menyebar luas
bahkan sampai keluar perkampungan pesisir pantai. Warga berbondong-bondong
mendatangi rumah gubuk Sapto yang hanya di huni olehnya serta putra semata
wayangnya, Dirun. Bocah usia delapan tahun itu terlihat begitu kurus, nampak
kurang gizi. Sejak lahir Dirun juga tidak sempat menyusu puting ibunya, sebab
Jumairoh, istri Sapto tersebut meninggal ketika melahirkan Dirun.
Kedatangan seorang perempuan muda
beserta ajudannya, membuat orang-orang yang awalnya berdesakkan sembari menutup
hidungnya mulai mundur dan mengatur jarak, memberikan ruang yang
luas kepada perempuan dengan dagu terangkat dan tangan disilangkan. Perempuan
itu menyerbakan aroma rosemary. Wewangian yang cocok untuk perempuan energik, keras,
berani dan menyukai petualangan.
Salah seorang ajudan mendekat ke mayat yang
terbujur di tengah ruangan dan ditutupi beberapa lembar kain jarit. Dibukanya
sedikit kain yang menutupi wajah. Ajudan tersebut mengangguk kepada perempuan
itu seakan memberikan isyarat lantas berkata, “benar, nyonya.”
Dari sekian puluh mayat yang pernah dia
pertemukan dengan keluarganya, baru kali ini dia menyaksikan wajah tak berduka
dari orang yang jelas-jelas mengenal si mayat.
“Syukurlah,”
gumam perempuan itu. “Laki-laki brengsek! Menyesal aku menjadi istirmu!”
tambahnya. Bersama ajudannya dia berbalik hendak pergi, namun Sapto
mencegatnya.
Dari
pernyataan itu Sapto tahu bahwa perempuan itu adalah istri lelaki yang telah
terbujur kaku di hadapannya. “Maaf, nyonya. Apa nyonya tidak ingin membawa
suami nyonya pulang?” tanya Sapto heran.
“Tidak.”
“Kenapa tidak? Suami nyonya harus
segera di makamkan, sudah membusuk. Bawalah nyonya, tenang aku tak meminta
bayaran.”
“Kamu kira aku tak membawanya
lantaran aku tak punya uang? Buat apa membawa mayat terkutuk seperti dia? Sudah
satu bulan ini dia meninggalkanku. Kawin lagi dengan perempuan lain! Biarlah,
lempar saja ke laut lagi. Untuk pakan ikan!”
Jika sudah begini, Sapto terpaksa harus menguburkan mayat
laki-laki itu secara pantas. Seperti mayat-mayat yang pernah dia temukan, namun
tak diketahui siapa keluarganya. Hari
ini Sapto harus mengurus mayat itu dan dia memilih untuk tak berlayar malam
ini. Tak ada satu pun tetangganya yang mau mendekat, membantu menguburkan mayat
itu. Bagi mereka itu tanggungan Sapto atas tindakan konyolnya.
***
Seperti keputusannya pagi tadi,
malam ini dia tak berlayar baik berburu ikan maupun mayat. Dia memilih tidur
bersama Dirun, bocah kecil yang sering dia tinggal malam hari ketika sudah
tidur terlelap. Sapto tertidur pulas, hingga menjelang fajar dia terpaksa
bangun karena kaget oleh suara seseorang yang menggedor-gedor pintu rumahnya.
“Kang, kang Sapto! Keluar, Kang! Ini
Sarti, Kang!”
Setengah sadar Sapto berjalan
membukakan pintu. Rupanya di luar sudah banyak orang.
“Kang,
tolong saya, kang, tolong!”
“Tolong
apa, Sar?”
“Tolong
carikan suamiku, Kang. Lihat itu, Kang!”
“Itu
perahu Karyo, bukan?”
“Iya, malam ini suamiku nekat
melaut. Dia pergi bersama beberapa nelayan lain. Wasmin salah satunya. Kata dia
perahu kang Karyo sempat terbalik terkena goncangan ombak ganas . Sekarang
hanya perahunya yang kembali. Kang Karyo hilang.”
“Iya,
To, tolong carikan Karyo!” seru para warga. Awalnya Sapto merasa heran atas
permintaan warga yang sebelumnya sempat menyepelekan kemampuanya mencari mayat
di lautan.
“Baik,
baik.”
Sapto masuk ke dalam rumahnya
mengambil beberapa perlengkapan. Dia juga mencium kening Dirun yang masih
terlelap dalam tidurnya. Kemudian kembali keluar bersiap menjamah laut.
“Sar,
titip Dirun, ya?”
“Iya,
Kang.”
Warga secara beriringan mengantar
kepergian Sapto untuk mencari Karyo. Mereka sangat mengharapkan Sapto
menemukannya. Entah masih hidup maupun sudah mati. Mereka juga membantu mendorong perahu Karyo
menuju ke tengah laut.
***
Terhitung
sedari fajar Sapto pergi. Cukup lama. Warga telah menanti kedatangan Sapto di
bibir pantai. Awan-awan tampak
liar. Bergulung-gulung, membukit dan kelam dalam warna kelabu. Bergelayut
diberati beban. Menambah muram wajah langit senja dengan desir angin yang parau
membawa debu. Dari kejuhan ternyata perahu Sapto mulai nampak. Warga pun
bersorak sorai melihatnya. Ketika ombak kian mendekatkan Sapto ke bibir pantai
dia berteriak, “hai, aku menemukannya!”
Seperti yang telah
di duga sebelumnya, pastilah Karyo sudah tak bernyawa. Tangis Sarti langsung
pecah mendahului langit yang masih mempertahankan mendungnya. Empat orang warga
memanggul mayat Karyo, sedang sisanya membuntuti dengan raut duka begitu dalam.
Ketika warga sibuk membantu Sarti mengurus mayat suaminya, Sapto memilih untuk
beristirahat sejenak di rumah gubuknya. Pencarian kali ini sangatlah
melelahkan.
“Dirun, buatkan
bapak kopi, nak.”
Tidak ada
tanggapan. Biasanya jika Dirun terdiam itu pertanda dia tengah kebingungan
sebab persediaan kopi atau gula sudah habis. Namun, Sapto yakin dia masih
memiliki persediaan kopi dan gula setengah toples.
“Dirun, Run?”
Tetap tidak ada
jawaban. Sapto mengahampiri kamarnya. Kosong. Dirun tidak ada. Dia cari ke
belakan rumah pun tak ada. Kembali dia ke depan rumah, dan berteriak
memanggil-manggil anaknya, “Diruuun! Kamu di mana!”
Dari kejauhan terlihat
lambaian bocah laki-laki. Dia berlari melambai-lambaikan tangan. Samar-samar
bocah tersebut berteriak mengatakan sesutau. Suaranya kalah keras dengan debur
ombak. Sapto mengira itu adalah Dirun, tapi ternyata bukan. Itu adalah Mi’un
anak adik iparnya.
“Paman, paman
Sapto!” kata Mi’un dengan nafas tersengal-sengal. “Dirun, paman, Dirun.”
“Iya, Dirun
kenapa?”
“Dia terseret
ombak.”
“Apa?” Sapto
benar-benar kebingungan, “toloooooongg!” teriak Sapto. Namun, tak seorang warga
pun mendekat, mereka semua tengah sibuk mengurusi kematian Karyo. Rumah Karyo
berada di ujung kampung, suara Sapto tak kan mampu menjangkaunya.
Mendung telah
meluruh menjadi gerimis. Sapto merasa sangat tidak karuan. Di antara gerimis
putih yang menaburi senja. Keabu-abuan
telah memeluk waktu dengan diiringi langit jingga yang kian lama kian memudar. Hari sudah
mendekati pelukan malam. Perlahan gerimis mulai berganti hujan. Hujan yang kian
deras. Dengan langkah kecilnya, Mi’un berlari pulang ke rumah, sedangkan Sapto bergegas mendorong perahunya yang baru
saja menepi untuk kembali berlayar ke tengah laut. “Diruuunnn!!!”
teriak Sapto ditengah tirai ombak yang mengepung perahunya dari segala arah
bersama hujan tak hentinya terus
mengguyur.
***
Pagi
harinya warga berkumpul di bibir pantai dan sepakat untuk mencari Sapto serta
anaknya. Namun ombak seolah memulang-pulangkan mereka kembali ke bibir pantai.
Seakan mereka hanya akan mendapati kesia-siaan jika terus memaksa.
Semenjak
saat itu tidak ada seorang pun yang tahu
keberadaan Sapto dan Dirun. Mungkin sudah mati di tengah laut dan dikoyak oleh
ikan hiu. Beberapa orang kerap mendengar suara rintihan pilu serupa kesedihan
yang mengapung di udara. Para nelayan yang berlayar malam hari pun terkadang
melihat bayangan perahu Sapto, nampak seorang lelaki tengah memangku anaknya.
Dan siapapun yang menyaksikannya, maka ia sama saja mendapatkan tanda kesialan.
Tak dapat ikan, kapal rusak terterjang ombak dan beragam kesialan lainnya.
***
“Syukurlah mati.
Hanya mencampuri urusan orang lain saja!” ucap seorang perempuan setelah
membaca berita di koran mengenai seorang nelayan dan anaknya yang hilang di
lautan dan dikabarkan mati.
“Nyonya,
perempuan itu sudah kami bunuh. Akan diapakan nantinya?”
“Buang saja ke
laut. Biar dia ketemu dengan pasangannya yang brengsek! Pastikan kau buang
mayat itu di tempat yang banyak ikan hiunya. Biar lekas lenyap dan tak ada yang
menemukan!”
Para ajudan
mengangguk. Perempuan itu mengambil botol parfum kecil di atas meja. Menyemprotkannya
ke sisi kanan kiri leher secara bergantian, menyerbakan aroma rosemary. Wewangian yang cocok untuk
perempuan energik, keras, berani dan menyukai petualangan.
Semarang,
September 2013